#1
The Stage of Hopelessness
adalah tema dari Biennale, sebuah pameran kesenian yang lumayan ternama, yang aku kunjungi beberapa hari lalu. Tidak banyak yang bisa aku sampaikan tentang tema ataupun latar belakang dari pameran tersebut karena aku kehilangan brosurnya (maaf). Namun, jika diambil secara literal, aku pikir tema tersebut sudah cukup menjelaskan dirinya sendiri.
The Age of Hope, Era Harapan. Cukup 'menarik' dalam representasinya karena diambil dari kata yang berkontradiksi yaitu The Stage of Hopelessness atau Panggung Keputusasaan (aku tidak menarik arti menjadi 'Tahap Keputusasaan' dalam interpretasiku), di mana harapan sudah nihil. Dari permainan kata tersebut, aku pikir aku ingin menafsirkan bagaimana sebuah 'harapan' dapat ditemukan bahkan dalam keadaan yang sangat tidak terlihat memungkinkan bahwa harapan apapun tersisa. Dalam sebuah panggung yang hampa akan harapan, kau akan menemukan sebuah masa penuh harapan. Aneh, memang. Berharap akan harapan, sebuah barang yang tidak nyata secara fisik, tidak akan mati hanya dengan sebuah 'nama', sebuah 'pernyataan' oleh seseorang bahwa tidak ada hal positif macam itu di dalamnya. Harapan benar-benar gaib dan terbatas bagi para sang 'pengharap' saja. Tapi, benarkah mereka tidak nyata dalam bentuk tiga dimensi secara literal? Menurutku, pameran ini ingin menunjukkan bagaimana harapan dapat datang dalam berbagai macam bentuk. Ini, dan juga menunjukkan bagaimana panggung tanpa harapan dapat terwujud.
Harapan
adalah suatu nomina, bahkan dalam bahasa tidak dapat dikatakan dengan demikian 'tidak harapan'. Harapan berdiri sendiri, mandiri, dan abadi. Tentu saja, semua hal pasti ada harapan selama ada yang percaya. Harapan pasti ada selama ada keyakinan. Harapan selalu ada, hanya saja kita perlu menemukannya. 'Keputusasaan' adalah sebuah keadaan yang sangat relatif. Persepsi memiliki banyak pandangan yang berbeda mengenai keadaan ini, dengan kata lain, subjektif. Tidak ada definisi pasti mengenai kata keputusasaan, maupun kata apapun yang diapit ke- dan -an, mereka abstrak dan tak terbelenggu satu dua opini. Lalu, ada apa dengan 'panggung keputusasaan'?
Ruang yang diambil dalam tata 'penuh harapan' dan 'keputusasaan' dalam tema ini sangat kontras dalam luasnya. 'Era' atau 'Abad' untuk penuhnya harapan, sedangkan 'keputusasaan' hanya mendapat jatah sebuah panggung. Kembali pada pernyataanku sebelumnya, keadaan tanpa harapan atau keputusasaan sangat subjektif, berbeda dengan keadaan adanya harapan yang sebenarnya konstan namun pasif menunggu, diam dalam damai.
Seseorang dapat meluncurkan sebuah drama dalam panggungnya, memaparkan kisah tragisnya, dan banyak orang akan menjadi penontonnya. Tetap saja, lingkup yang ketragisan, keputusasaan kisah yang dibawakan sutradara ini hanya akan mencapai pada penonton drama tersebut. Semua itu akan terbatas pada luas panggung yang dimilikinya. Lagi, penonton akan keluar dari gedung pertunjukan keputusasaan tersebut tidak dengan satu pikiran. Mereka akan memiliki pandangan berbeda dalam keputusasaan yang disampaikan. Para penonton tentu saja memiliki kebebasan untuk berpendapat.
"Menyedihkan sekali, ya? Aku merasa kasihan."
"Tragis, tapi aku tahu cerita yang lebih tragis."
"Apa tadi seharusnya membuatku terhanyut sedih? Menurutku penderitaannya sebuah lelucon!"
Di mana, harapan dikatakan nyata di mana-mana, sebuah abad penuh harapan. Di mana saja, yang bahkan untuk mencatatnya tidak akan cukup kertas mana pun. Aku menangkapnya, sekali lagi, bahwa harapan selalu ada namun perlu ditemukan.
Jikalau sutradara sang panggung keputusasaan memutuskan untuk keluar dari pertunjukannya, berhenti merasa kasihan pada dirinya dengan memperlihatkan kisah hidup menyedihkannya dan bahkan berharap orang lain akan mengasihaninya, kemungkinan besar dia akan menemukan sesuatu yang dia selalu cari dan hampa akan hal tersebut. Harapan. Terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga lupa untuk mencari jalan untuk maju dari posisinya saat itu, terperangkap dalam panggung hidupnya sendiri.
Entah mengapa semakin aku terus menulis semua ini, aku makin merasa hipokrit.
Aku rasa, ya, pameran ini menyuguhkan bagaimana interpretasi keputusasaan dalam berbagai wujud indah dalam seni dan, bisa jadi, mengajak para penikmatnya mencari sesuatu yang lebih di dalamnya. Harapan, mungkin?
Dalam sebuah abad penuh harapan, tidak jarang ada yang terpenjara dalam panggungnya sendiri. Merasa terbebani maupun terberkahi oleh tatapan penuh penghakiman oleh penonton. Hidup dalam ekspetasi orang, hingga lupa bahwa hidup tidak hanya sebatas 'melampaui ekspektasi'. Hidup itu, setidaknya pada zaman ini, adalah selalu berharap, bertahan hidup karena ada harapan akan sesuatu hal baik dalam masa depan. Sebuah pikiran yang bodoh dan kekanakan, namun sebuah asumsi yang logis. Lihatlah, banyak orang yang berani mengambil kredit bertahun-tahun, menaruh investasi dalam perusahaan, menyekolahkan anaknya. Karena apa? Mengharapkan sesuatu yang lebih di masa depan.
Sebuah pikiran konyol, kusadar. Tapi, siapa yang konyol? Masyarakat yang sudah menerima atau hanya aku seorang? Jawabannya sudah pasti jelas.
Karya
yang aku dapati dari pameran ini sangat beragam dan tidak banyak yang benar-benar membuatku berpikir. Aku tidak dapat menemukan pola nyata dalam karya-karya yang dipamerkan, apa karena ini pameran seniman bebas, apa mungkin karena persepsiku masih sempit dan pendek. Namun, untuk sebuah tema ini, aku menemukan bahwa aku tertaut pada karya-karya yang menunjukkan keputusasaan melebihi mereka yang menunjukkan 'sisi baik' dari segi realita.
Ada sebuah karya seni berjudul 'Matinya Seekor Harimau' oleh seniman yang aku lupa namanya, menunjukkan media tombak-tombak dengan replika tangan menunjuk pada satu arah, laksana spotlight. Langsung aku mengiyakan dan setuju pada karya tersebut, merasa dapat melihat sebenarnya apa yang seniman berusaha katakan. 'Harimau' menjadi logo seseorang yang kuat, perkasa, ganas, sang pemburu hutan. Tapi, di sini, di saat itu juga, di dalam ruangan itu, seekor harimau mati di tengah-tengah penghakiman orang lain. Replika tangan menunjuk itu dapat disadurkan menjadi cemooh, tuduhan, olokan, tawa, apa pun yang membuat bahkan seekor harimau, atau dengan kata lain, manusia bertajuk 'paling atas dalam piramida makanan', akan mati terpojok oleh 'faktor luar' yaitu masyarakat. Mati, secara fisik maupun mental. Mati dalam berbagai sisi. Mati, semati-matinya.
Membuatku sadar betapa zaman sekarang betapa terbukanya (lengahnya) dan rapuhnya (bergantungnya) kita terhadap pendapat orang lain, kecuali beberapa individu spesial. Aku yakin semua orang memiliki alasan-alasan tersendiri kenapa menggunakan sosial media. Aku pun yakin, walau tidak terucap, keinginan pengakuan dan apresiasi dari orang lain tidak terbantahkan. Aku sangat maklum, lagipula, kita adalah manusia sosial. Hanya saja, sangat memburai akalku saat aku berpikir keras mengapa kita seenaknya memberitahu, memperlihatkan hidup kita (yang seharusnya pribadi) kepada orang yang kau bahkan tak kenal. Jangan hiraukan ini, aku pun belum dapat putus sepenuhnya dari sosial media. Hipokrit, ingat?
Di sebelah makam harimau tersebut,
ada sebuah ruangan panjang, gelap, sempit, dan misterius. KINEZ RIZA, senimannya, dengan judul karya 'Interim'. Artinya, 'sementara'. Ruangan gelap dengan tangga sebuah panggung kecil beralaskan kaca. Di ujung ruangan, terlihat dari jauh sebuah 'batu' dengan cahaya yang senantiasa bergerak akibat air yang tercucur entah dari mana sumbernya. Ada peringatan untuk lepas sepatu saat memasukinya, namun tidak ada peringatan untuk tidak masuk hingga ujung ruangan. Aku pikir tak apa untuk benar-benar masuk, namun kaos kakiku lebih basah dahulu sebelum mencapai panggung kaca tersebut. Keingintahuanku pun tidak terpenuhi.
Mungkin lebih baik jika ada yang menjadi penjaga dari karya tersebut dan dapat memberi tahu jika pengunjung pameran memang bisa naik ke panggung tersebut.
Interim, sementara, keadaan yang tidak selamanya. Secara keseluruhan, aku mengambil makna dari karya tersebut sebagai pesan yang menjawab tema pameran ini, bahwa harapan dan keputusasaan keduanya sementara. Ada saatnya kau berharap, ada saatnya kau merasa putus asa. Keduanya tidak bisa dihindari karena keduanya saling mengimbangi.
Sesuatu yang bercahaya di balik batu seakan menunjukkan, atau mengundang, harapan menemukan sesuatu yang menakjubkan. Seperti banyak cerita fiksi yang menafsirkannya sebagai harta karun. Namun, setelah kau tahu apa yang ada di baliknya, rasa penuh harapan pun terpenuhi. Puas, walau sementara, namun puas. Tidak mesti putus asa, memang. Tapi, siapa yang bisa menjamin bahwa apapun yang ada di baliknya tidak dapat menimbulkan rasa putus asa?
Sebuah paradoks, interim. Punya harapan atau tidak, perasaan apapun yang kau miliki saat kau menuju batu itu untuk melihat sinarnya, perasaan itu akan hilang karena mereka sementara. Harapan dan putus asa keduanya sangat mudah berubah, seringan daun terbawa angin.
Apa tujuanmu ke sebuah pameran seni? Secara spesifik, Biennale ini?
Sebelum aku pergi ke pameran, tentu aku sudah mendapati teman-teman di Instagramku berfoto ria di pameran tersebut. Dalam satu atau dua karya yang itu-itu saja. Saat aku sampai pada salah satu karya tersebut, aku mendengus dalam hati. Benar saja, pikirku, dan untuk itu aku merasa entah sedih ataupun congkak. Satu karya ini, dalam perspektifku, sebenarnya menohok dan benar dalam penyampaiannya.
Oleh INDIEGUERILLAS X WVLV, dengan karya mixed media berjudul 'I just want to entertain myself (at The Biennale)', di dalam sebuah ruangan dengan beberapa (dua atau tiga) projeksi video yang 'artistik' dan 'instagramable'. Garis-garis, pola-pola, selalu berubah secara konstan, warna, monokrom, sedap di mata kamera. Ini salah satu karya yang aku suka dapati dalam instastoryku, teman-temanku yang datang ke Biennale. Ini dan satu karya lain yang takkan kubahas.
Aku hanya mau menghiburku diriku (di Biennale). Kira-kira itu artinya. Aku sendiri memasukkan diriku dalam golongan manusia yang terhibur dengan seni, seorang penikmat seni amatir yang opininya lebih banyak di kepala dibandingkan yang dituliskan. Namun, entah mengapa, satu ruangan itu yang ramai dengan orang-orang sedang berfoto maupun berpose di bawah cahaya proyeksi secara tidak sadar membaur dengan karya seni tersebut. Mereka yang sedang berpose di dalam proyeksi video itu sudah menjadi objek karya seni tersebut. Mereka adalah subjek-objek yang di bawah karya tersebut, memberikan gambaran jelas dan konkret sekian persentase pengunjung bagaimana yang ada di Biennale, atau pameran seni lainnya.
"Kamu gak foto, Swet?"
Aku tersenyum sambil mengeluarkan hapeku, bersiap memoto temanku,
"Enggak. Aku ke sini mau lihat-lihat, bukan foto-foto."
Aku sadar perkataanku itu jahat, tapi aku tidak bisa mengambilnya kembali lagi, kan? Percuma menyesalinya.
Aku tidak akan tahu jika memang ada beberapa orang yang semata-mata ke Biennale untuk menghibur diri dalam arti "spot foto yang bagus". Itu tidak salah, tidak ada yang salah dalam menghibur diri dengan seni. Aku rasa, aku melihat betapa banyak hal sudah berubah (pastinya) dan ini salah satunya; menyadari jika memang ada orang yang semata-mata, atau tidak namun salah satu alasan pokoknya, pergi ke Biennale adalah 'untuk foto'. Bagus untuk feeds, instrastory, sejenisnya. Sebuah tindakan apresiasi yang memang.. modern. Tidak ada kejutan di sana.
Lagipula, menyebarkannya ke sosial media menjadi sarana iklan yang bagus.
Sekali lagi, aku tidak keberatan jika yang aku pikirkan nyata. Hanya saja, aku tidak tahu benar-benar apa yang harus aku rasakan menyikapi sikap itu. Sedih karena bukan sikap apresiasi yang, maaf bila aku lancang, seorang seniman benar-benar harapkan? Tidak peduli, toh itu bukan masalah besar. Yang ingin aku sampaikan adalah, sang seniman karya ini antara benar-benar tahu keinginan remaja saat ini, atau karya ingin secara halus dan tidak 'sakit' dalam menyampaikan 'pandangannya' mengenai jenis pengunjung pameran seni tertentu yang mereka ekspektasikan. Aku? Setuju.
Aku tidak akan lompat kepada konklusi, namun aku akan berspekulasi bahwa ruangan karya seni ini menjadi salah satu 'masalah' dalam 'kemajuan era' yang manusia sendiri belum matang untuk menghadapinya. Kembali pada interpretasiku dalam tema Biennale; orang dapat terjebak dalam lingkaran ketragisan dan pengasihanian diri sendiri, mencari muka yang tepat dalam audisi sosial, dan makam harimau; kedudukan manusia sebagai 'hewan' kelas paling atas dapat dipertanyakan dengan lahirnya teknologi, terlebih, sosial media, ruangan ini mengungkapkan banyak sisi (asli) dari seorang manusia zaman now.
Aku tidak akan lompat kepada konklusi, namun aku akan berspekulasi bahwa ruangan karya seni ini menjadi salah satu 'masalah' dalam 'kemajuan era' yang manusia sendiri belum matang untuk menghadapinya. Kembali pada interpretasiku dalam tema Biennale; orang dapat terjebak dalam lingkaran ketragisan dan pengasihanian diri sendiri, mencari muka yang tepat dalam audisi sosial, dan makam harimau; kedudukan manusia sebagai 'hewan' kelas paling atas dapat dipertanyakan dengan lahirnya teknologi, terlebih, sosial media, ruangan ini mengungkapkan banyak sisi (asli) dari seorang manusia zaman now.
Aku akan mengakhiri opiniku
... dengan ajakan untuk meningkatkan rasa empati kita dan sensitivitas. Bukan untuk pembaca namun juga diriku. Dengan meningkatnya teknologi dalam mempermudah hidup, terkadang, kita menjadi bergantung pada teknologi terlebih daripada manusia lain. Bergantung yang berlebihan, yang tidak sehat. Yang darimana kita bahkan tidak dapat meninggalkan rumah tanpa smartphone atau enggan tidak membukanya barang satu jam saja saat menikmati pameran seni. Kita memang perlu, tapi kita juga harus tahu bahwa semua ada limitnya.
Aku pun merasa akhir-akhir ini terlepas dari emosiku dan dalam kondisi di mana tidak peduli sama sekali kecuali kejujuran diri, melupakan perasaan orang lain dan menjustifikasikan semua yang kulakukan berdasarkan 'logika'.
Mencari, menyelidiki, menyidik, mengais, menggali, menemukan ide dan pikiran dari tangan-tangan pencipta karya seni dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan sensitivitas kita. Empati pun, saat kita dapat memosisikan diri kita di posisi seniman. Apa yang sebenarnya ingin diperlihatkan? Bahkan, apa yang sebenarnya sang seniman cari dari karya nya sendiri?
Juga, untuk menjaga diri. Saat ini, dunia dalam kondisi paling kuat sekaligus lengah. Aku akan meninggalkan kalimat tersebut apa adanya dan membiarkan kalian berpikir tentang itu. (Tentu saja, sebenarnya aku lelah menyampaikan berulang kali apa yang aku telah elaborasikan sepanjang narasi ini.)
Sekian, terima kasih.
Yogyakarta, 6 Desember 2017.
Komentar
Posting Komentar